CV Dipantara bersama kelompok tani hutan rakyat (KTHR) binaan telah melaksanakan pemantauan erosi tanah pada Januari – Maret 2025 di wilayah hutan rakyat Kabupaten Gunungkidul.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program monitoring lingkungan tahunan untuk memastikan efektivitas upaya konservasi tanah dan air di areal binaan.
Pemantauan menggunakan metode Erosion Bridge, yaitu alat pengukur perubahan mikro permukaan tanah dengan ketelitian milimeter. Hasil pengukuran dikonversi menjadi kehilangan tanah (soil loss) dalam satuan ton per hektar per tahun (t/ha/th).
Hasil Umum
Hasil pemantauan menunjukkan bahwa tingkat kehilangan tanah di seluruh lokasi berada pada kisaran 12–33 ton per hektar per tahun, dengan kategori ringan hingga sedang.
Nilai ini masih jauh di bawah ambang batas bahaya erosi untuk tanah Grumusol (±60 t/ha/th).
Tidak ditemukan tanda-tanda erosi berat seperti alur (rill) atau longsoran kecil. Sebaliknya, praktik konservasi yang diterapkan—seperti teras bangku, vegetasi penutup tanah (bambu, vetiver, kaliandra), serta pengelolaan drainase air hujan—terbukti efektif menekan laju erosi.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, pengelolaan hutan rakyat berbasis konservasi oleh CV Dipantara terbukti mampu menjaga kestabilan tanah dan mencegah degradasi lahan di kawasan karst Gunungkidul.
Upaya konservasi vegetatif dan mekanik yang dijalankan kelompok tani binaan berhasil mempertahankan tingkat erosi dalam kategori aman dan terkendali.
Langkah Ke Depan
CV Dipantara akan terus memperkuat:
- Pemeliharaan dan perbaikan teras bangku serta saluran air.
- Penambahan vegetasi konservatif di area terbuka atau rawan erosi.
- Pemantauan berkala dua kali setahun (awal dan akhir musim hujan).
- Pelibatan aktif kelompok tani dalam kegiatan monitoring dan evaluasi lapangan.
🌿 Kesimpulan akhir:
Kegiatan pemantauan ini menegaskan bahwa sistem konservasi tanah yang diterapkan CV Dipantara berjalan efektif dan menjadi contoh pengelolaan hutan rakyat berkelanjutan yang berwawasan lingkungan di Gunungkidul.
